Selasa, 18 Desember 2012

Interview Bumblefoot dengan Mayhem Music Magazine (Part 1)


Kamu punya teknik bermain gitar yg luar biasa. Dan terkesan bahwa gitarlah yang menjadi suaramu, itu bukan sekedar sebuah instrumen. Apakah selalu seperti itu bagimu?
Tidak. Kupikir yang terjadi adalah ketika kamu memulai, kamu tidak berpikir tentang teknik. Kamu hanya memikirkan lagu2 yang kamu suka atau hal2 seperti itu, dan kamu pasti akan bersemangat memainkannya. Kemudian teknik hanya akan membantumu untuk fokus pada seberapa kemajuanmu, seberapa jauh kamu bisa menggunakan teknik itu sendiri.
Kemudian kamu akan mulai kehilangan pandangan terhadap hal2 yang sederhana. Kamu seperti berada terlalu jauh hingga kamu lupa apa bagaimana awal dari semua itu dan kamu bahkan tidak dapat melihatnya lagi dari tempat kamu berada sekarang. Kemudian itu akan mulai berputar2 dan kamu akan mengambil semua yang kamu pelajari selama ini dan menyatukan semua itu.   
Dan kamu mulai memandangnya bukan sebagai sebuah garis yang menuju ke suatu arah tertentu, itu lebih menyerupai hal2 yang membesarkan hati dan yang kamu kagumi dan kamu tambahkan dalam kehidupan. Kukatakan semakin lama kamu mendapatkannya, akan semakin bercita rasa yang kamu dapatkan.
Jadi yeah, aku berpikir setahun atau dua tahun terakhir ini benar2 gila. Bagaimanapun, aku memikirkan hal2 yg bisa membuat perbedaan, hal2 yang masuk dalam kehidupan pribadimu. Apa yang kamu rasakan pasti sangat menentukan bagaimana kamu akan bermain, seberapa mudah kamu tersakiti, seberapa banyak bagian dirimu yang ingin kamu ekspos.

Tampak sekali kamu mencintai musik dalam setiap aspek. Dari bermain, menulis lagu, produksi, bagiku kamu adalah seorang yang selalu bisa bangkit kembali. Darimana datangnya dorongan itu?
Itu semua bermula ketika aku mendengarkan Kiss pada saat aku berusia 5 tahun. Saat itu, seketika aku mendengarkan album Alive Kiss, aku berkata “Itu yang ingin kulakukan.” Begitu juga dengan The Beatles – bagian cello yang diletakkan oleh George Martin- semua itu yang menjamahku dan membuatku mencintai musik.
Jadi The Beatles membuatku mencintai musik, suaranya, bagaimana itu mempengaruhimu secara emosional. Sedangkan Kiss membuatku ingin berada diatas panggung, pertunjukan besar dan semuanya. Dimulai dengan itu dan seluruh hidupku kepersembahkan untuk semua aspek dari musik.
Menurutku apapun yang kulakukan dan kuperoleh, aku akan membagikannya. Aku akan mengajarkannya pada orang lain, sama seperti hal itu diajarkan padaku. Jadi aku bermain selama 6- 7 tahun, belajar semua hal akademis, semua teori musik, kemudian aku mulai mengajarkannya pada orang lain. Usiaku 13 tahun waktu itu. Pada awalnya aku mulai mengajar pada seorang anak berusia 16 tahun di lingkungan rumahku. Aku telah bermain musik sejak usiaku 7 tahun, jadi aku mengajarkan pada mereka apa yang telah aku pelajari.
Ketika aku berusia 15 tahun aku punya sebuah studio yg cukup layak dengan 8 track ku, keyboard, drum kecil dan semuanya. Jadi selain melakukan demoku sendiri, aku mulai membawa orang2 ke studio dan merekam mereka. Apapun yang kulakukan, aku akan membagikannya pada orang lain sama seperti itu dibagikan padaku. Seseorang memberikannya padaku dan aku akan memberikannya pada orang berikutnya, karena tentang itulah sebenarnya musik itu.
Belakangan ini aku sering memikirkan hal itu karena aku mulai melakukan hal lain disamping musik, seperti membuat saos pedas.
Aku baru mengetahui kemiripannya bukan pada benda / hal apa itu, tapi bagaimana kita membagikannya pd dunia. Itu seperti musik. Kamu suka musik dan kemudian kamu mulai belajar musik, dan kamu mulai membuat musik dan kamu membagikannya. Menurutku semua seperti itu, entah itu fotografi, jenis seni apapun seperti membuat film, menceritakan dongeng, membuat makanan, membuat saos pedas, kamu akan menyukainya. Jadi kamu akan membuatnya dan membagikannya. Jadi menurutku ini adalah perkembangan alami yang terjadi pada apapun yang kamu sukai.

Aku tahu bahwa kamu membagikan pengetahuanmu kepada murid2 lewat Skype. Apakah kamu masih punya waktu untuk itu ketika sedang tur?
Aku tidak bisa karena kujamin dimanapun aku berada, koneksi internetnya akan payah. Maksudku, kamu harus melihat selama dua hari ini aku mencoba meng-upload sebuah video, melalui hotspot iPhone ku atau koneksi disini atau melalui apapun yg kudapatkan, dan selama dua hari aku terus menerus mencobanya. Dimanapun aku berada ketika sedang tur, aku hanya akan mendapatkan koneksi internet yang payah.
Aku sedang banyak tur hingga aku tidak ingin menjadwalkan pelajaran untuk seseorang dan kemudian itu semua berantakan karena Skype tidak bisa – aku tidak bisa upload video. Karena itu, ketika aku harus melakukan videocast, aku akan berkata “Kamu harus menunggu sampai aku kembali ke rumah dan bisa melakukannya.” Kukira koneksinya sangat buruk dan aku tidak bisa membuat audio dan video. 

Ini lucu, karena pertanyaanku selanjutnya adalah bagaimana internet mempengaruhimu sebagai seorang musisi?
Oh, itu segalanya. Internet -ketika itu bisa didapatkan- adalah segalanya. Itu adalah koneksi semua orang ke seluruh dunia. Sebelum itu, aku ingat belasan tahun yang lalu ketika aku terbangun pukul 4 pagi dan aku harus mengirim fax ke seseorang di Jepang.  Sekarang kamu dapat mengirim email kapanpun dan mereka juga bisa menjawabmu kapanpun.
Tentang distribusi musik, para artis telah lepas dari sangkar mereka yang mengunci dan menahan mereka dan kuncinya dipegang oleh label rekaman dan distribusinya. Sekarang semua orang bisa membuat musik dan meletakkannya diluar sana untuk seluruh dunia, itu bagus untuk semua orang. Itu bagus untuk artisnya sendiri dan bagus juga untuk para pecinta musik.
Satu2nya hal yang sulit sekarang adalah ada terlalu banyak musik diluar sana, menjadi lebih sulit untuk menemukan musik, karena terlalu banyak. Itu seperti mencoba memilih sesuatu dari daftar menu yang panjangnya sampai 20 halaman.

Betul sekali.
Apa yang kamu pilih? Sekarang hampir semua orang punya senjata yang sama dan pertanyaannya adalah sebagaimana bagus kamu menembak, itu yang membuat seseorang berada lebih diatas dibanding yang lain. Semua orang bisa membuat musik. Seorang bocah berusia 15 tahun juga bisa membuat musik dan membuatnya mudah diperoleh, semudah memperoleh Metallica.

Tapi itu hal yang bagus.
Itu hal yang bagus, memang.  

Karena beberapa orang tidak akan pernah terdengar jika semua tergantung label rekaman.
Tentu saja dan hal2 itu terjadi karena omongan dari mulut. Jadi jika kamu adalah seorang penembak yang lebih jago dan orang2 tahu itu, maka mereka akan menyukainya dan membagikannya. Mereka akan saling mengatakan tentang itu dan kata2 hanya keluar begitu saja seperti itu.
Biaya untuk itu jauh lebih murah. Dulu diperlukan setidaknya 1 juta dollar untuk membuat video. Sekarang kamu dapat membuatnya dengan iPhone kamu dan meng-uploadnya di YouTube dan akan banyak orang yang melihatnya. Meskipun pada saat yang bersamaan, kamu juga tidak menghasilkan banyak uang. Itu seperti semua angka2 itu menjadi semakin kecil. Jadi tidak butuh biaya banyak. Itu seperti biaya hidupmu dan apa yang kamu dapatkan telah mengecil sampai pada level itu.

Wah, jadi lebih sulit juga mengetahuinya begitu itu keluar.
Yeah, kamu tidak punya kendali. Kamu dapat mengeluarkannya, menjualnya tapi 90% orang akan memperolehnya dengan cara mereka sendiri.
Ini adalah dunia “free sample” dan jika orang2 menyukainya, mereka akan memberi donasi. Begitulah cara kerjanya. Jadi apa yang kurasakan belakangan ini adalah bahwa ini bukan tentang musikmu lagi. Ini tentang kamu dan jika orang2 ingin mendukungmu, orang2 itu akan mendukung musikmu.
CD adalah bagian dari merchandise yang orang2 inginkan sekarang. Mereka sebenarnya tidak membelinya untuk mendapatkan musiknya. Mereka membelinya karena mereka ingin mendukung kamu dan mereka ingin memiliki obyek yang nyata yang mewujudkan kecintaannya padamu. Mereka merasa seolah2 terkoneksi denganmu, orang2 itu, dan oleh karena itu mereka mendukungmu. Mereka suka musikmu karena mereka menyukaimu.

Kamu juga sangat berhasil dalam proyek solomu di masa lalu dan sekarang kamu merilis track ke publik secara online. Apakah kamu masih ingin melakukan hal yang sama, mengeluarkan album dalam bentuk CD?
Tentu, karena banyak orang... Bagiku, itu sangat sederhana. Berikan kepada orang2 apa yg mereka inginkan. Dengarkan mereka. Tanyai mereka. Temukan apa yg orang inginkan dari kamu dan bagaimana mereka menginginkannya dari kamu. Banyak orang yang menyukai musikku masih menginginkan CD. Mereka ingin punya sesuatu yang dapat dipegang dengan tangan mereka. Mereka menginginkan merchandise.

Fans menginginkan CD ada di tangan mereka, tapi kamu merilis satu lagu di internet setiap bulan.
Ah, iya. Jika aku tidak mengeluarkan satu lagu setiap bulan dan aku menunggu sampai 1 CD lengkap dengan 12 lagu, bisa dikatakan, itu tidak akan keluar. Karena ketika aku memiliki 9 lagu, aku harus tur dan aku tidak punya waktu lagi. Kehidupan benar2 ada ketika kamu berada di rumah. Kamu pergi selama 3 bulan, kemudian kamu pulang dan ada semacam daftar hal2 yg harus kamu lakukan di rumah dan yang harus kamu rawat. Jadi kamu hanya berlomba melawan waktu untuk mengerjakan itu semua dan semakin lama semakin sulit meluangkan waktu untuk sekedar berada di studio dan melakukan sesuatu yang kreatif.
Jadi aku akan pulang dan kemudian menerobos keluar demi sederet solo gitar tamu pada album orang2 yang berbeda, akan seperti itu. Tapi menjadi lebih sulit untuk mendapatkan waktu dan fokus menulis musikku sendiri. Kamu harus membuat musik untuk hidupmu. Kamu harus membuat kehidupan bekerja untuk musikmu.
Sebenarnya hanya tentang itu, mengerjakan musik dan memasukkannya ke kehidupanmu. Tidak seorangpun harus berkorban untuk orang lain terlalu banyak. Kompromi kecil, tapi kamu harus bisa mengerjakan keduanya. Kamu harus membuat musikmu bekerja untuk kehidupanmu dan kamu harus membuat kehidupanmu bekerja untuk musikmu.
Jadi bagiku, hal terbaik untuk dilakukan adalah mengeluarkan 1 lagu setiap bulan, memperoleh bara yang konstan daripada harus menunggu sampai panasnya bisa mendidihkan air. Lebih baik seperti ini. Kita sekarang hidup dalam dunia dimana kita tidak harus mengeluarkan album. Seperti aku ingin menyelesaikan kisah yang lengkap dalam satu buku, berhadapan dengan menyelesaikan satu bab pada waktu tertentu, kupikir orang2 lebih menikmati untuk tidak menunggu dua tahun dan mendapat banyak hal.
Tapi jika kamu mempertahankan bara yang konstan itu selalu ada, itu seperti memberikan sedikit musik di suatu waktu, dan itu akan menjaga semuanya tetap hangat dan itu akan tetap bertahan. Itu lebih baik bagi mereka, karena setiap bulan mereka punya sesuatu yang baru untuk dinantikan, daripada harus menunggu 2 tahun.
Jika mereka mendengarkan 12 lagu, bisa dikatakan sebulan setelah itu keluar, pada akhir bulan mereka akan berkata, “Baiklah. Aku telah mendengarkannya. Sekarang apalagi?” Tapi jika kamu memberikan 1 lagu – dan aku tidak memberikan lagu saja pada mereka, aku memberikan transkrip pada mereka, aku memberikan stem rekaman pada mereka. Mereka dapat melakukan lebih dengan lagu itu, yang kupikir akan lebih baik karena aku tidak akan bisa meluangkan waktu sebanyak itu jika aku harus mengerjakan sebuah album. Aku suka memberikan sedikit musik pada orang2 tapi dengan lebih sering. Kupikir itu berhasil dan aku dapat melakukannya. Jadi kita punya teknologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar